KAMPUNGKU TAK SEDINGIN DAHULU
KAMPUNGKU TAK SEDINGIN DAHULU

KAMPUNGKU TAK SEDINGIN DAHULU

Kumandang azan Subuh bersahutan di penjuru masjid kampung. Ibu-ibu berlomba membangunkan anaknya untuk pergi ke masjid. Ada yang terbiasa bangun pagi, cukup dengan dibisikkan lembut ke telinganya. Sang anak bergegas dengan cepat mengambil air wudu. Beda hal dengan orang tua yang jarang membangunkan anaknya di pagi buta. Susahnya minta ampun untuk membuat mata sang anak terbuka dengan sempurna.

Hari itu adalah hari pertama anak mereka sekolah, termasuk aku. Tidak ada ibu-ibu yang mau terlambat mengantarkan anak mereka sekolah. Bak mencoreng arang di muka. Rasanya harga diri dipertaruhkan di hadapan ibu-ibu satu kampung.

Air di perkampungan yang dinginnya menusuk tulang tidak dihiraukan. Embun yang menempel di jendela masih setia sejak dini hari. Seolah jadi saksi keriweuhan ibu-ibu di kampungku.Beruntungnya aku tergolong anak yang tidak susah dibangunkan. Mudah saja bagiku melawan kantuk. Sayangnya aku tak mampu untuk berhadapan langsung dengan air dingin.

Air panas yang sudah disiapkan ibu tinggal dituangkan ke ember hitam. Selepas salat Subuh aku lanjut mandi dengan air hangat. Sesekali aku isi gayung dengan air dingin di bak lalu disiramlah badan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan cepat aku ganti dengan air hangat. Hanya sesekali, supaya aku bisa merasakan nikmatnya mandi dengan air hangat. Apa kamu sering melakukannya?

Seragam putih merah rapi telah tersedia di kamar. Wangi parfum bekas setrika arang itu melekat di seragam baru itu. Bukan hanya seragam. Tas, buku, pulpen, sepatu, dan perlengkapan lainnya pun baru. Aku pun siap menghadapi hari baru.

Jalanan menuju sekolah masih berselimut kabut. Jarak pandang sangat terbatas. Hanya pengendara motor yang mengeluh. Tentu aku tidak. Aku sangat menikmati momen itu. Luar biasa. Mungkin itu ucapan hati yang terlintas. Tuhan menciptakan kabut itu sangat indah. Fenomena alam yang menarik itu terekam jelas dalam pikiranku.

Mulailah masuk ke pematang sawah. Ya, sekolahku terletak di depan sawah yang terbentang luas. Seluas mata memangdan. Sebenarnya jalan ke sekolahku bisa melewati jalan raya. Tapi jalanan sawah itulah jalan pintas menuju sekolahku. Hijaunya sawah menjadi pemandangan seru yang bisa dinikmati setiap berangkat sekolah.

25 tahun silam telah berlalu. Kabut, sawah, cuaca dingin, dan kenangan alam yang indah itu mulai pudar. Di Tasikmalaya aku dilahirkan, di sana pula aku merasakan banyak perbedaan. Kemajuan dipertontonkan seiring dengan iklim yang sangat berubah. Sayangnya, semua itu ulah manusia. Bumi sekarang adalah dampak dari warga bumi yang dulu. Sama-sama tidak bisa merawatnya.

Sering kali ingin pulang kampung hanya ingin merasakan udara dinginnya malam dan pagi. Kini sudah berganti dengan cuaca yang gerah. Hareudang kami orang Sunda menyebutnya. Jangan tanya kalau siang bolong. Mungkinkah awan mirip sundel bolong? Cahaya matahari bisa tembus langsung ke bumi lewat bolongan perutnya. Sama-sama menakutkan.

Selimut sudah jarang dipakai. Air di pagi hari tidak lagi dingin. Mandi pun tidak usah pakai air hangat karena ia sudah tidak perlu dipanaskan lagi untuk menjadi hangat. Itulah perubahan iklim yang aku rasakan. Kampungku tidak sedingin dahulu.

Benar saja pakar sains atmosfer ITB Drs. Zadrach L Dupe menjelaskan bahwa banyak faktor yang mengakibatkan suhu suatu daerah mengalami kenaikan. Alih fungsi lahan, kepadatan penduduk, dan menjamurnya kendaraan adalah tiga faktor penyebabnya. Lahan yang awalnya persawahan kini dipenuhi dengan perumahan. Penduduknya pun bertambah dan pastinya kendaraan menjadi bertambah pula. Apalagi dampak paling nyata, kata Drs. Zadrach, peristiwa El Nino atau kemarau panjang pada tahun 2020 memberikan “sumbangsih” luar biasa kepada bumi ini.

Di kampungku, Tasikmalaya, tahun 1997 masih terasa dingin. Tahun 2022 mungkin Tasikmalaya tidak tergolong dengan kota cuaca dingin. Yang ada hareudang terus. Bandung yang terkenal lebih dingin pun mengalami kenaikan suhu. Awalnya tahun 1975, rata-rata suhu udara di Kota Paris Van Java itu 22,6 derajat Celsius. Beranjak naik menjadi 23,6 derajat Celsius di tahun 2015, dan meroket ke angkat 25,69 derajat Celsius pada tahun 2020. Kenaikan rata-rata suhu udara di beberapa tempat di Indonesia adalah bukti bahwa perubahan iklim tengah berlangsung. Tidak lepas dari peran manusia yang sudah merekayasa alam. Kita yang berbuat, kita juga yang kena.

Belum lagi Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang mengalami banyak penyusutan. Seperti dilansir Tempo, banyak kota di Indonesia yang tidak bisa memenuhi Ruang Terbuka Hijau sebanyak 30 persen. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2007, tentang Penataan Ruang disebutkan jumlah minimal luas Ruang Terbuka Hijau adalah 30 persen dari luas wilayah kota yang terdiri dari 20 persen ruang terbuka hijau publik dan 10 persen ruang terbuka hijau privat.

Kebijakan alokasi RTH, perencanaan pembangunan, keterbatasan anggaran, lemahnya pengawasan, keterbatasan lahan, dan kurangnya kesadaran masyarakat menjadi faktor-faktor yang menyebabkan minimnya RTH di beberapa kota di Indonesia.

Apa yang bisa kita lakukan?

Ini pertanyaan yang seharusnya disampaikan ke diri kita sendiri. Setelah melihat dampak yang terjadi sekarang ini. Seolah semuanya sudah selesai. GAME IS OVER. Tidak kawan! Sejatinya jika kita diam saja berarti kita menunggu kehancuran bumi di masa depan. Setidaknya ada aksi kecil yang bisa kita berikan untuk bumi demi anak cucu kita yang merasakannya nanti.

Jika berbicara solusi maka izinkan saya mengambil contoh konkret yang bisa kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim ini. Selama saya merantau kurang lebih 7 tahun di Kabupaten Bekasi, saya mendapatkan insight yang sangat bagus ketika berkunjung ke Kampung Iklim di Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Daerah itu menjadi surga kesejukan di tengah hiruk pikuk pabrik. Ayo, kita bicara lebih lanjut.

Ruang Terbuka Hijau

Jika Anda pertama kali datang ke Kampung Iklim Telaga Murni maka kesan pertama yang Anda rasakan adalah begitu ramainya tanaman-tanaman hias di tiap rumahnya. Sejak Anda masuk ke gerbang utama, tanaman pucuk merah yang rapi siap menyambut Anda. Selanjutnya Anda akan menjumpai aneka tanaman seperti jahe, kelor, kangkung, kunyit, bayam, tomat, dan masih banyak lagi. Ada yang ditanam di pot rumah masing-masing, ada juga yang membuat tanaman hidroponik.

Kita tidak perlu menunggu pengembang atau pemerintah untuk membuat Ruang Terbuka Hijau. Nyatanya, kita bisa membuatnya sendiri dimulai dari rumah yang kita tinggali. Sejatinya tanaman atau sayuran kita tanam bisa menghasilkan udara yang lebih jernih daripada tidak ada sama sekali tanaman yang kita pajang di halaman.

Sampah Daur Ulang

Kreasi warga Desa Telaga Murni dari bekas tutup tong sampah (dok. ferryaldina)

Ada kreasi unik buatan warga Desa Telaga Murni. Tong-tong sampah yang sudah tidak terpakai lagi bukannya dibuang melainkan dijadikan rambu-rambu peringatan. Terpasang di tiap lampu penerangan jalan di setiap RT. “Utamakan Lingkungan”, “Jagalah Kebersihan”, “Bersih, Indah, Resik adalah Lingkunganku”, dan rambu-rambu lain yang menjadi simbol greenisasi di Desa Telaga Murni.

Selanjutnya adalah sampah plastik. Sampah plastik memanglah simpel terdengarnya. Faktanya penyebaran sampah plastik yang sangat tidak terkendali inilah yang bisa merusak banyak habitat, mulai dari laut, tanah, sampah menjadi polutan udara. Fakta lainnya adalah data dari Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton sampah plastik terbuang ke laut. Inilah yang menyebabkan Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan jumlah pencemaran plastik ke laut terbesar.

Proses pemilahan sampah plastik bersama ibu-ibu warga Desa Telaga Murni (dok. ferryaldina)

Beruntung sekali warga Desa Telaga Murni kompak untuk melakukan perubahan. Warga berbondong-bondong (biasanya setelah senam pagi di hari minggu) untuk mengumpulkan sampah plastik dan kardus yang sudah tidak dipakai. Setelah sampah berhasil dikumpulkan maka proses pemilahan pun dilakukan. Ada yang dipilah untuk dijual dan uangnya disimpan di tabungan sampah. Ada juga yang dibuat untuk kerajinan tangan. Sehingga tidak ada lagi sampah plastik yang terbuang percuma.

Bagaimana dengan sampah rumah tangga? Sampah rumah tangga pun dikumpulkan untuk dijadikan pupuk kompos. Sebelumnya dimasukkan ke dalam lubang biopori.

Pupuk-pupuk karya Pak Narno (dok. ferryaldina)

Ada kreasi juga dari warga, Pak Narno namanya, buruh pabrik di perusahaan alat berat itu berhasil membuat inovasi dengan membuat pestisida dari puntung rokok. Hebat, bukan?

Kenapa warga Desa Telaga Murni bisa kompak untuk mengatasi perubahan iklim? Bermula dari seorang warga yang menyadarkan warga-warga lainnya. Kita pun bisa memulai dari diri sendiri untuk bersikap bijak dengan sampah. Ucapan dari salah seorang penggiat sampah selalu terngiang dalam pikiran saya.

“Kalau gak peduli dengan sampah, anak cucu kita nanti di masa depan akan merasakan dampaknya” kata Ibu Atun, aktivis penggiat sampah di Kampung Rawa, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Saya pun terinspirasi untuk melakukan hal-hal kecil seperti selalu membawa botol minuman demi mengurangi pembelian air minum dalam kemasan botol plastik, berusaha membawa keranjang belanja ketika berbelanja, dan saya pun mulai menanam tanaman di depan halaman rumah. Semua ini saya lakukan #UntukmuBumiku supaya bumiku bisa lebih baik untuk generasi masa depan.

Jika seorang saja bisa berdampak untuk kondisi bumi di masa depan maka bayangkan jika kita sama-sama #TeamUpforImpact. Dampak perubahan iklim yang melanda Indonesia bisa berkurang dan dirasakan manfaatnya beberapa tahun mendatang.

Saya pun mengajak teman-teman pembaca untuk selalu melakukan perubahan kecil untuk lingkungannya. Meskipun kecil tetapi jika konsisten maka bersiaplah untuk memanen hasilnya. Selamatkan bumi kita tercinta.

Salam,

Ferry Aldina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *